Sabtu, 13 Agustus 2011

Bahasa Pohon Selamatkan Bumi

BAHASA POHON SELAMATKAN BUMI “The best friend on earth of man is tree. When we use the tree respectfully and economically, we have one of the greatest resources of the earth” (Arsitek Frank Lloyd Wright) Banyak cara dapat kita lakukan untuk menyelamatkan Bumi yang kian rapuh.

Salah satunya dengan menanam pohon, sang primadona efek pemanasan bumi, penyelamat lingkungan. Phohon adalah salah satu keajiaban alam terhebat. Semua ajaran agama dengan tegas menempatkan pohon menjadi symbol dan sumber kehidupan manusia. Relief-relief di Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi-candi lain melukiskan pohon dalam kehidupan kita. Sakral dan romantic. Cinta dan kedamaian terukir dengan menanam pohon dan segala aktivitas kehidupan di bawah pohon. Kebencian dan anarki dilukiskan dengan menebang pohon. Pohon adalah pembentuk ruang paling dasar ( akar dan tanah = lantai, batang = tiang, ranting dan daun = atap) yang menciptakan keteduhan agar manusia dapat melakukan aktivitas dibawahnya, sang Buddha Gautama merenung hening di bawah pohon Bodi (Ficus religiosa). Para murid yang sekolahnya ambruk tetap dapat belajar di bawah kerindangan pohon. Bumi dan perempuan adalah satu. Kata bumi sendiri berkonotasi perempuan. Bumi tempat pohon berpijak menghujamkan akarnya. Bumi, pohon, dan perempuan menginspirasi Sutradara Garin Nugroho untuk membuat film terbarunya berjudul Under The Tree. Bagi Garin, pohon mempunyai banyak makna yang menjadi bagian tak terlupakan dalam kehidupan semua orang di Bumi. Pohon dan perempuan juga telah mendorong Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Sepuluh juta Pohon (1/12/2007) untuk menyelamatkan Bumi. Pohon Beringin (Ficus benjamina) dipilih sebagai lambing Persatuan Indonesia, sila ketiga Pancasila. Pohon Kalpataru (Barringtonia asiatica), pohon kehidupan, dijadikan symbol penghargaan bagi pahlawan pelastrian lingkungan hidup. Mesti bukan partai hijau, sebuah partai politik besar justru memakai lambang pohon beringin untuk mencitrakan partai yang memberi keteduhan kepada rakyat. Pusat-pusat kota di Jawa ditandai dengan dua pohon beringin kurung alun-alun sebagai titik nol kota. Pohon kamboja (Plumeria alba) banyak ditanam di pura-pura suci di Bali atau tanah pemakaman di Jwa. Sebutan kota-kota kita juga ada yang berasal dari cirri khas pohon-pohonnya, seperti Semarang (pohon asam yang ditanam jarang-jarang), Bogor yang identij dengan pohon kenari. Begitu pula sejumlah kawasan di Jkarta, dulu Sunda Kelapa (Cocos nucifera), Kawasan Menteng (Baccaurea recemosa), Cempaka Putih (Michelia alba), Karet (Ficus elastic), Kemang(Mangifera caecea), Kelapa gading (Cocos capitata), Kapuk (Ceiba petandra), Kosambi (Schleichera oleosa), atau Kebayoran ( Bayur = Pterospermum javanicum). Tetapi pohon-pohon kini merana karena tumbang ditiup angina tau ditebangi tanpa terkendali, Padahal, pohon wajib dilindungi dan dilestarikan apapun alasnnya. Menebang pohon sama saja mempercepat ajal kita. Pada era pemanasan Bumi dan berbagai bencana alam (banjir, tanah longsor, pencemran udara, krisis air) terjadi, gerakan penanaman pohon besar yang lebih banyak lagi merupakan hal mutlak. Pohon berjasa menahan air dalam tanah, mencegah erosi dan longsor, menjadi habitat bagi berbagai makhluk hidup, memproduksi oksigen, menyerap karbondioksida-gas rumah kaca penyebab pemanasan global-menyaring gas polutan, meredam kebisingan, angin dan sinar matahari, dan menurunkan suhu kota. Menanam pohon sebenarnya berbicara tentang kearifan konsumsi-investasi, menjamin kelangsungan lingkungan hidup warga dan kota. Selalu ada alternative penyelesaian cerdas dalam membangun kota tanpa harus menebangi pohon jika kita mau berfikir panjang. Seluruh warga hendaknya berpartisipasi menggerakkan lompatan besar menghijaukan kota melawan proses penggurunan kota (kota beton). United Nations Environment Programme (UNEP, 2007) berkampanye “Plant for the Plane: Billion Tree Campaign”, sebagai salah satu upaya memulihkan kondisi Bumi dari pemanasan global melalui gerakan menanam pohon. Di kita, gerakan penghijauan masih sekedar serimonial belaka. Terbengkalai, tidak dipelihara, dan mati. Menanam phohon ada aturannya, tidak asal tanam. Penanaman pohon mensyaratkan kecocokan jenis pohon (pantai, dataran rendah, pengunungan), fungsi (ekologis, ekonomis, estetis), ketepatan cara (standar keamanan dan keselamatan), waktu penanaman, penyediaan, pemilihan, dan pendistribusian (dalam jumlah besar), serta pemeliharaan pasca tanam. Penanaman harus memperhatikan segi estetika arsiktural, lanskap visual kota, peran maksimal terhadap lingkungan, aman terhadap konstruksi, batang tak mudah patah, dan berumur panjang (ratusan tahun). Pohon-pohon pengikat tanah dan penyimpan air tanah ditanam di lahan kritis yang rawan longsor dan erosi. Pohon bakau memagari kawasan tepian pantai hingga menyusup ke jantung kota melalui bantaran kali untuk mencegah intrusi air laut, menahan abrasi pantai, menahan air pasang, angin dan gelombang besar dari lautan besar dari lautan lepas, mencegah pendangkalan dan penyempitan badan air, menyerap limpahan air dari daratan (saat banjir), menetralisasi pencemaran air laut, dan melestarikan habitat tiga ekosistem hutan bakau yang kaya keanekaragaman hayati. Jenis pohon tertentu terpilih sebagai pohon penyelamat (escape trees) yang ditanam di sepanjang jalur evakuasi bencana (escape route) menuju taman atau bangunan penyelamatan (escape building) lainnya. Penanamn pohon besr di sepanjang jalur hijau jalan, jalur pedestrian, bantaran rel kereta api, jalur tegangan tinggi, serta jalur tepian air bantaran kali/sungai, situ, waduk, tepi pantai dan rawa-rawa akan membentuk insfratuktur hijau raksasa yang berfungsi ekologis. Kota pohon memberikan keteduhan pada pejalan kaki dan pengguna sepeda. Berbagai penelitian membuktikan, 1 hektar ruang terbuka hijau (RTH) yang dipenuhi pohon besar menghasilakan 0,6 ton O2 untuk 1.500 penduduk/hari, menyerap 2,5 ton CO2/ tahun (6 kg CO2/batang pertahun, menyimpan 900 M3 air tanah/tahun, mentransfer air 4.000 liter/hari, menurunkan suhu 5”C – 8”C, meredam kebisingan 25-80 persen, dan mengurangi kekuatan angin 75-80 persen. Setiap mobil mengeluarkan gas emisi yang dapat diserap oleh 4 pohon dewasa (tinggi 10 M ke atas, diameter batang lebih dari 10 CM, tajuk lebar, berdaun lebat). Pemerintah perlu menyurvei ulang, mendeteksi tingkat kesehatan dan keamanan, serta mengambil tindakan perawatan, pemeliharaan, dan ansuransi pohon. Unit reaksi cepat perlu tanggap member pertolongan darurat, memangkas pohon sakit atau rawan tumbang, menyingkirkan pohon tumbang, mengangkut, dan mengolah sampah pohon, serta didukung standar kinerja, kompetensi pekerjaan, sertifikasi tenaga pengaas, dan pelaksana pemeliharaan pohon. Ini agar warga kota tidak paranoid, takut pohon tumbang saat musim hujan tiba atau ada angin putting beliung. Pemerintah bersama masyarakat dapat memelihara dan melindungi pohon. Kita mengadopsi dan menjadi orang tua angkat pohon-pohon besar di depan rumah. Ada beberapa pohon yang layak tanam untuk kota besar seperti Jakarta, yaitu pohon trmbesi/Ki Hujan (Samanea saman), asam (Tamarindus indica), mahoni (Swietenia mahogany), tanjung (Mimusops elengi), atau bintaro (Cerbera manghas). Selain itu, pohon buah-buahan yang menarik bagi burung atau tuapai dapat pula ditanam dilingkungan rumah kita, seperti pohon mangga (mangifera indica), sawo kecik (Manilkara kauki) rambutan (Nrphelium lappaceum), nangka (Artocarpus integra). Kawasan pantai dapat ditanami waru laut (Hibiscus tiliaceus), cemara laut (Casuarina equisetifolia), nyamplung (Calophyllum inophyllum), ketapang (Terminilia cattapa). Kita tidak akan pernah dapat menghargai pohon selama kita tak pernah mendengarkan bahasa pohon. Seperti pepatah bijak China 500 SM, “Jika engkau berpikir untuk satu tahun ke depan, semailah sebiji benih, jika engkau berpikir untuk sepuluh tahun ke depan, tanamlah sebatang pohon”. Ingat pula, kata Al Gore, “Plant Trees, Lots of trees,” (An Inconvenient Truth, Al Gore, 2007). Sumber : Nirwono Joga Diposkan kembali oleh : Masyarakat Peduli Lingkungan sambil nyanyikan lagu-nya Louis Armstrong I see trees of green........ red roses too I see em bloom..... for me and for you And I think to myself....what a wonderful world. I see skies of blue..... clouds of white Bright blessed days....dark sacred nights And I think to myself .....what a wonderful world. The colors of a rainbow.....so pretty ..in the sky Are also on the faces.....of people ..going by I see friends shaking hands.....sayin.. how do you do Theyre really sayin......i love you. I hear babies cry...... I watch them grow Theyll learn much more.....than Ill never know And I think to myself .....what a wonderful world .......Yes I think to myself....... what a wonderful word

Best regards,

Owner TrashGoogleBlogs
print this page Print this page

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari Gabung Diskusi serta Mohon komentar dengan sopan, jangan SPAM atau SARA. Komentar SPAM atau SARA akan dihapus..Blog ini Bersifat Dofollow, Anda komentar dapat Backlink Otomatis untuk Meningkatkan PR Blog Anda...Terima kasih atas Kunjungan,Salam Sukses....!!!