Jumat, 17 April 2015

Asrul Intip Manajemen Sampah Singapore (4)

Mobil Sapu Sampah di Marina Bay Singapore (Mei 2014)
Dimana-mana tempat saya kunjungi, itu sudah pasti mencari dan mencari timbulan dan tempat-tempat sampah. Baik di dalam negeri terlebih di luar negeri. Bagi orang lain, mungkin menganggap saya gila dan aneh atas aktifitas saya ini. Kebiasaan unik setiap kali traveling ke luar negeri. Bukannya hanya memotret tempat-tempat indah, saya juga mengamati dan memotret tempat sampah dan pengolahan sampah di tiap kota. Saya sangat takjub dengan masalah manajemen persampahan di luar negeri, khususnya di Singapore, tempat sampah di mana-mana sudah dipisah sesuai jenis. Petugas sampah Singapore sangatlah disiplin dan bertanggungjawab atas pekerjaannya.


Di Australia, tempat sampah ditandai dengan warna kuning, biru, dan merah. Perusahaan yang menangani pengangkutan dan pengolahan sampah biasanya berdasarkan tender. Di sana, pemerintah punya plan pengolahan sampah dan menerapkan zero waste management.

Di Singapura, ada pusat daur ulang sampah kertas. “Sampah adalah proyek sangat mahal. Tapi, kalau kita tahu cara mengolahnya, bisa menjadi sumber pendapatan,” kata Asrul, menirukan ucapan warga Singapura pengusaha distributor tempat sampah.
TPST dekat hotel tempat nginap_Orchad, Singapore (Mey 2014)
Petugas sampah bercerita pada saya bahwa Singapura juga punya tempat pembuangan sampah dengan teknologi maju. Sampah sudah dipisah-pisah, residunya langsung masuk ke tempat pembakaran sampah.

Di Dubai, setiap beberapa unit rumah dan vila disediakan kontainer sampah tertutup. Truk sampah datang setiap hari pada saat gelap.

Jujur saya merasa miris, jika bicara soal sampah di Indonesia. “Kesadaran masyarakat untuk tertib buang sampah pada tempatnya masih rendah. Dari pihak pemerintah, belum ada keseriusan dalam menangani sampah. Ada daerah yang warganya terpaksa patungan menyewa truk sampah, karena sampah mereka tak kunjung diangkut. Di pusat pembuangan sampah, limbah hanya dibiarkan tanpa diolah,” sangat menyayangkan.

Agar tercipta lingkungan yang bersih,saya berharap pemerintah bersedia menyubsidi tempat-tempat pengolahan sampah di setiap kkawasan khususnya kawasan pemukiman, di beberapa titik (TPST) disediakan tempat sampah besar atau kontainer. “Kalau melihat tumpukan sampah, saya geregetan ingin mengangkut. Tapi, kalau saya angkut hari ini, biasanya besok akan ada lagi. Hari ini ada satu, besoknya ada lagi yang melempar,”  yang pasti, saya akan menyambut baik para pemain baru di bisnis ini.

Pengelolaan Sampah Singapore

Sampah berserakan karena Turis_Dok.Asrul (Mey 2014)
Lokasi Jembatan Marina Bay Singapore
Berbicara tentang strategi pengelolaan sampah kota metropolitan, sebagai pembanding, ada baiknya kita intip strategi negara jiran terdekat kita yakni Singapura dalam menakhlukkan sampah hingga negeri itu berhasil mendudukkan dirinya sebagai salah satu kota yang hijau dan terbersih di dunia cocok dengan semboyannya: Singapore, clean and green.

Menurut data dari Kementrian Lingkungan Hidup Singapura, Singapura, negeri dengan wilayah daratan seluas DKI Jakarta atau sekitar 650 km2 dan berpenduduk lebih dari 4,6 juta jiwa, menghasilkan sampah sekitar 7600 ton perharinya. Untuk menangani sampah sebanyak itu, yang notabene 1000 ton lebih banyak dari produksi sampah Jakarta, Pemerintah Singapura memilih strategi pengelolaan sampah berupa penerapan teknologi insinerator yang dapat mengubah sampah menjadi energi listrik (waste to energy) dan pembangunan TPA sanitary landfill di lepas pantai.
Pemilihan teknologi insinerasi didasarkan karena teknologi tersebut mampu mereduksi volume sampah harian hingga 90 persen sehingga masa pakai TPA menjadi semakin panjang. Umur TPA menjadi sangat penting di sana karena sebagai kota metropolitan dan industri, Singapura tidak lagi menyisakan daratannya untuk usaha non-produktif seperti TPA sehingga pembangunan TPA-nyapun mau tidak mau memanfaatkan wilayah lepas pantai dengan persyaratan teknis yang sangat ketat. Selain karena keterbatasan lahan, pemilihan teknologi tersebut, yang cukup mahal, rumit, dan hightech, juga didasarkan pada sudah matangnya kesiapan finansial, perangkat hukum, institusi pengelola, dan sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah.

Dengan strategi tersebut, sistem pengelolaan sampah di Singapura jelas tidak sekedar menerapkan prinsip kumpul, angkut, dan buang seperti yang banyak dipraktekkan di kota-kota besar di Indonesia, tetapi prinsipnya adalah sampah dikumpulkan, kemudian dipadatkan (di transfer station) untuk kemudian diangkut dan dibakar (di insinerator), dan terakhir dibuang (di sanitary landfill di lepas pantai).
Sebelum bulan April 1999, tempat pembuangan sampah Singapura sebenarnya terletak di TPA Lorong Halus yang letaknya di kawasan pantai berawa bagian timur laut Singapura. Namun karena TPA tersebut sudah penuh dan tidak tersisa lagi daratan Singapura untuk TPA, maka dibuatlah TPA sanitary landfill lepas pantai di selatan Singapura yang sekarang dikenal sebagai TPA Semakau.


Best regards,

Owner TrashGoogleBlogs
print this page Print this page

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari Gabung Diskusi serta Mohon komentar dengan sopan, jangan SPAM atau SARA. Komentar SPAM atau SARA akan dihapus..Blog ini Bersifat Dofollow, Anda komentar dapat Backlink Otomatis untuk Meningkatkan PR Blog Anda...Terima kasih atas Kunjungan,Salam Sukses....!!!