Jumat, 03 Maret 2017

Perbandingan Antara SUN TZU dengan KEN AROK

Kawah Putih Bandung (dok_Asrul)
Untuk membandingkan pemikiran klasik Sun Tzhu dan Ken Arok seharusnya kita harus memperjelas posisinnya kenapa dalam dunia akademik pemikiranya tergolong klasik. Apakah ukuranya dilihat dari tahun kelahiran karya-karyanya, atau didasarkan pada ide-idenya yang filosofis atau bahkan dilihat dari praktiknya dilapangan yang sudah tidak memungkinkan digunakan dan digeser oleh pemikir-pemikir strategis baru seperti Calusewitz dan B. H Liddell hart. Untuk itu mari kita bedah satu persatu sebelum kita masuk lebih dalam untuk membandingknya dengan pemikiran klasik Ken Arok. 

            Sun Tzhu hidup pada dinasti Zhou Chun Quin yakni periode musim semi dan gugur abad IX-V SM atau hidup diantara 500 BC pada akhir musim panas dan gugur periode 771-481 BC. Dalam literatur lain juga dikatakan bahwa Sun Tzu merupakan ahli militer yang memberikan proposal militer mengenai cara bagaimana memanage kemiliteran kepada raja Wu, yang kemudia sang raja terkesan dengan pemikiranya. Sedangkan Von Clausewitz hidup pada masa perang Napoleon sekitar 1781-1831. Begitu juga dengan Liddell Hart periode 1895-1970 yang terlibat pada Perang Dunia I. Jika ini menjadi patokan untuk mengukur klasik atau tidaknya sebuah pemikiran, maka tentu kita bisa mengklasifikasikan bahwa para pemikir-pemikir yang hidup dibawah tahun 1781 kebawah dan menikmati masa-masa zaman pertengahan dan renaissance sekitar tahun 1517 tergolong pemikir klasik. Sebut saja Nicolo Machiavelli yang menciptakan maha karyanya Il Principe/The Prince dapat tergolong pemikir strategis klasik, begitu juga Sun Tzu yang justru hidup jauh sebelum tahun itu dan juga Ken Arok yang lahir 1182 sampai 1247 dapat digolongkan juga sebagai pemikir strategi klasik dari tanah jawa.

Kedua, jika mengukur klasik atau tidak dari ukuran karyanya yang filosofis dan bagaimana keefektifan prakteknya di lapangan, maka ini menjadi sedikit agak bias. Karena jika dilihat dari prakteknya di lapangan, baik pemikiran Sun Tzu, Ken Arok, Machiavelli, Liddell Hart & Clausewitz semuanya dapat dipraktekkan sampai sekarang meskipun masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Namun jika ukuranya lebih dilihat dari isi karya-karyanya maka kita mungkin dapat sedikit menjelaskanya dari struktur gaya penulisanya dan juga dari pesan-pesan yang terkandungnya. Misalkan saja tulisan Sun Tzu sangat bernuansa gaya bahasa sastra dengan penggalan-penggalan kalimat dan taktikal sedangkan Clausewitz dalam On War  menggunakan tata bahasa yang jelas dengan menjelaskanya secara rigid dan tentu juga taktikal. Jadi disini ada sedikit perbedaan yang dapat kita pahami dari cara penulisan strategi dan naskah-naskahnya, dimana pemikir klasik umumnya tulisanya ditulis dengan gaya bahasa yang “mendayu-dayu” khas tulisan sastra, sedangkan pemikiran moderen umumnya cara menulisnya dengan gaya bahasa yang rigid, tekstual dan “straight”.

Terlepas dari prinsip-prinsip pengklasifikasian klasik atau tidak, ada hal yang lebih mendasar mengapa penulis mengangkat sosok Ken Arok dan pemikiranya sebagai pembanding pemikiran Sun Tzu[1]. Dalam literatur-literatur Hubungan Internasional khususnya literatur mengenai studi strategi, kita akan sangat kesulitan menemukan alternatif-alternatif bacaan yang keluar dari konstruksi kerangka berpikir barat, semua ilmu dan literatur tampaknya lahir dari pengalaman barat dan kerangka berpikir orang barat, sehingga apa yang terjadi selanjutnya adalah adanya ketidak seimbangan yang menyebabkan barat selalu mendominasi dalam konteks keilmuan (sebut saja Von Clausewitz, Liddell Hart, Bernard Brodie, Williamson Murray, Mark Grimsley, Colin S. Grey dll).  Amitav Acharya dalam Non-Western International Relations Theory: Perspectives on and Beyond Asia memperkuat arugumen ini dengan menanyakan “Why is there no non-Western international relations theory?” Acarya mengatakan bahwa sumber dari teori hubungan internasional secara gamblang gagal untuk menyesuaikan dengan distribusi “subjeknya”[2]. Inilah yang menyebabkan kemudian teori-teori yang lahir dari pengalaman barat pada situasi tertentu tidak dapat menjelaskan secara utuh fenomena Asia yang memiliki pola dan sejarah yang berbeda dengan barat. Karena itu tulisan ini mencoba untuk mengangkat tokoh non barat yang pada topik ini adalah Ken Arok sebagai alternatif rujukan pemikiran selain Sun Tzu yang telah terlebih dahulu dikenal dunia sebagai ahli strategi dari China.

Strategi Dalam Pandangan Ken Arok dan Sun Tzu

Ada hal yang menarik dari keduanya antara Sun Tzu dan juga Ken Arok untuk dibandingkan. Sun Tzu yang dari kalangan sipil dan sebelumnya tidak pernah bertempur berbeda sekali dengan Ken Arok yang semasa kecilnya hingga besar sudah lekat dengan kekerasan dan kerusuhan hingga dirinya menjadi pelaku kudeta kerajaan Tumapel. Disisi lain Sun Tzu yang pendekatanya “soft” dalam artian menyarankan puncak tertinggi kemenangan adalah dengan menakhlukkan lawan tanpa berperang, Ken Arok justru sebaliknya menganggap bahwa kemenangan terbesar adalah dengan cara menakhlukkan lawan secara “material” atau secara fisik. Namun disisi perbedaan-perbedaan diatas ternyata ada persamaan taktik antara Sun Tzu dengan Ken Arok pada beberapa point yang akan penulis uraikan dalam paper ini[3].

Bagi Ken Arok strategi itu diejawentahkan pada penggunaan cara “sly”/  licik untuk mendapatkan tujuan baik itu menggunakan kontak langsung maupun tidak, namun lebih diutamakan kontak tidak langsung. Ini terlihat ketika dikisahkan Mpu Palot yang pulang dari Kebalon dan membawa banyak barang dan memutuskan berhenti di Lululumbang. Mpu Palot mendengar kabar bahwa ada perusuh bernama Ken Arok di wilayah jalan menuju Turyantapada dan dia takut untuk pulang sendirian. Ketika dia berada di tempat tersebut ternyata Mpu Palot bertemu dengan Ken Arok dan terlibatlah percakaan antara keduanya. Berceritalah Mpu Palot bahwa dirinya takut pulang sendiri karena mendengar cerita tentang adanya seorang perusuh bernama Ken Arok, namun Ken Arok tidak mengatakan identitasnya yang sebenarnya, dia menyembunyikanya dan justru menawarkan diri untuk melindungi Mpu Palot selama perjalanan. Karena kesanggupan itu Mpu Palot merasa berhutang budi sekali karena merasa diantarkan sampai tujuan dengan selamat. Dan akhirnya sebagai bentuk balas budi diajarkanlah Ken Arok ilmu tentang membuat emas yang pada waktu itu tidak sembarang orang dapat melakukanya[4].
        
Kemudian dikisahkan juga ketika Ken Arok yang jatuh cinta terhadap kecantikan Ken Dedes dan berusaha merebutnya dari Tunggul Ametung sang raja Tumapel. Namun setelah mendapatkan keris dari Empu Gandring, ia tidak langsung menusukkan keris tersebut ke Tunggul Ametung, namun menggunakan taktik adu domba. Taktik tersebut dilakukan dengan cara di perlihatkan keris yang belum selesai disempurnakan itu kepada Kebo Hijo, lalu dipinjamlah oleh Kebo Hijo keris itu karena dia menyukainya, Kebo Hijo yang memiliki keris tersebut tidak dicurigai oleh orang istana, sebaliknya jika Arok yang membawanya ke istana maka akan dengan cepat dicurigai. Setelah malam menjelang, Arok pun menyelinap kedalam rumah Ametung dan kondisi didalam rumah sedang senyap karena semua orang sedang tertidur. Setelah melihat Tunggul Ametung yang tidak siap dan sedang tertidur pulas, maka ditusukkanlah keris tersebut ke jantung Ametung yang dalam hitungan detik mati seketika. Paginya ketika orang melihat jasad Tunggul Ametung yang sudah meninggal dengan keris yang masih menancap di tubuhnya, dengan segera orang dalam istana dapat mengenali keris tersebut. Mereka menganggap pembunuhnya adalah Kebo Hijo karena keris tersebut selalu ia bawa. Akhirnya Ken Dedes berhasil direbut dari tangan Tunggul Ametung.[5]
            
Dari dua kejadian tersebut nampaklah bagaimana strategi dalam pandangan Ken Arok dari apa yang dia terapkan untuk mendapatkan kepentinganya. Pada kejadian ketika Ken Arok bertemu dengan Mpu Palot yang ketakutan pulang sendirian, Arok menggunakan tipu muslihat dengan berbohong. Disini dapat di intepretasikan bahwa berbohong adalah salah satu instrumen penting dalam mencapai tujuan. Contohnya jika suatu negara memiliki militer yang supercanggih dan kuat, mereka tidak akan mungkin seratus persen jujur dengan mengatakan bahwa sekarang sedang mengembangkan senjata mematikan dll, namun mereka akan cenderung menutupinya dan akan menggunakanya disaat yang tepat. Contohnya program pengembangan nuklir Iran.
            
Lalu ketika Ken Arok mencoba merebut Ken Dedes dari tangan Tunggul Ametung, Arok tidak menggunakan jalan pertempuran langsung terhadap Ametung. Disamping karena ametung seorang raja yang pastinya dilindungi oleh banyak pasukan, Ametung sendiri tidak mempan oleh senjata biasa karena itu Arok memesan khusus keris yang dibuat oleh Empu Gandring. Selanjutnya arok memanfaatkan Kebo Hijo sebagai alat untuk melancarkan aksinya. Apa yang dapat di intepretasikan dari kejadian ini adalah, bahwa dalam pandangan Ken Arok adanya pihak ketiga sebagai korban yang dapat dimanfaatkan atau dalam kata lain di adu domba penting dalam sebuah pertempuran. Taktik adu domba merupakan jalan yang efektif untuk seefisien mungkin mengurangi resiko tertangkap dan resiko kerugian akibat pertempuran langsung dengan lawan terutama lawan yang lebih kuat.
            
Sedangkan disisi lain strategi dalam pandangan Sun Tzu lebih diperlihatkan sebagai sebuah hal yang holistik mengenai pemanfaatan segala sumber daya yang ada dengan memperhitungkan elemen-elemen seperti prinsip, efisiensi, pengetahuan dll yang kesemuaan itu diterjemahkan dalam bentuk perang. Namun bagi Sun Tzu, puncak kemenangan tertinggi dalam peperangan justru dengan menakhlukkan musuh tanpa harus berperang[6]. Hal yang kontras dari Ken Arok dari Sun Tzu mungkin terlihat disini ketidak Sun Tzu yang lebih soft dimana menganjurkan menakhlukkan tanpa harus berperang, namun sebaliknya Ken Arok menganggap bahwa berperang mutlak adanya meskipun caranya tidak harus “vis a vis”.
            
Disamping perbedaan-perbedaan tersebut, Sun Tzu dan Ken Arok memiliki persamaan metode dalam menakhlukkan lawan terutama pada hal offensive strategy. Sun Tzu mengatakan bahwa seorang pemimpin harus mengetahui musuhnya dan mengetahui dirinya sehingga kemenangan akan dapat dengan mudah didapatkan meskipun di seratus pertempuran. Ken Arok pun sejalan dengan gagasan Sun Tzu. Ini diperlihatkan ketika Arok meminta restu kepada Bapa Bango untuk membunuh Tunggul Ametung, disitu dikisahkan bahwa Bango kemudian mengizinkan skenario pembunuhan yang akan dilakukan oleh Arok. Hanya saja kata Bango, T Ametung adalah orang sakti yang tidak mempan dengan sembarang senjata dan hanya mampu di kalahkan oleh senjata “bertuah”. Karena itu Bapa Bango menyarankan agar Arok datang ke seorang pandai keris di daerah Lulumbang yang bernama Mpu Gandring dan Arok mengatakan untuk menyelesaikanya selama 5 bulan karena setelah 5 bulan Arok akan menjalankan kudetanya terhadap Tunggul Ametung. Disini diperlihatkan bahwa Arok mengetahui betul siapa musuhnya dan siapa dirinya, karena itu dia mempersiapkan dengan matang hari dan senjata yang dia gunakan untuk melancarkan penyeranganya[7].
            
Selanjutnya kesamaan antara Sun Tzu dengan Ken Arok terletak pada penggunaan manuver. Dalam perspektif Sun Tzu manuver diperlihatkan sebagai sebuah kejelian dalam memilih pertempuran. Dimana konfrontasi langsung dapat lebih beresiko dan berbahaya daripada konfrontasi tidak langsung. Ini sama halnya dengan taktik Ken Arok dalam melancarkan kudetanya untuk membunuh Tunggul Ametung. Dimana ken arok memilih untuk tidak mendeklarasikan perang secara langsung kepada Ametung, namun dia memanfaatkan Kebo Hijo sebagai alat dan tumbal untuk membunuh Ametung dengan cara menyelinap dimalam hari.


[1] Tentu ada banyak yang bertanya-tanya mengapa mengangkat tema Strategi Ken Arok dalam membandingkanya dengan Sun Tzu, mengapa tidak Patih Gajah Mada atau tokoh berpengaruh lainya seperti Erlangga?. Untuk menjawab itu tentunya menjadi sangat subyektif bagi setiap individu yang mengintepretasikanya. Bagi penulis Ken Arok tergolong sebagai seorang tokoh klasik yang memiliki pengaruh besar dalam tanah jawa, terutama keberahasilanya merebut kerajaan TumapeL yang sekarang dikenal dengan Singhasari serta dibalut dalam kisah romanya mengambil Ken Dedes dari raja Tumapel pada waktu itu. Disisi lain dengan melihat pola strategi dan taktik yang diterapkan oleh Ken Arok sebenarnya kita dapat sedikit mengintepretasikan bagaimana konsep kekuasaan dan strategi orang jawa dalam memimpin. Ini menjadi menarik lantaran banyak sekali yang mengaitkan Sukarno, Suharto dan juga SBY termasuk Jokowi sebagai presiden yang masih kental menerapkan konsep strategi dan kekuaasaan ala “jawa”.

[2] Acharya. Amitav, Buzan Barry “Non-Western International Relations Theory: Perspectives on and Beyond Asia” Routladge. London dan Newyork 2010. Hal 1-2.
[3] Point-point tersebut diataranya ialah ( Offensive Strategy & Manuver)
[4] “Pararaton : Kitab Para Datu Atau Kisah Ken Angrok” Bagian I Hal : 6.
[5] Ibid.,Hal 11.
[6] Tzu. Sun & Minfor. John “The Art of War” Middlebury Collage Publication, New England Review Vol 23, No 3. 1990. Hal 11.
[7] Pararaton.,Op.Cit Hal : 10.
Oleh : Erry Mega Herlambang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari Gabung Diskusi serta Mohon komentar dengan sopan, jangan SPAM atau SARA. Komentar SPAM atau SARA akan dihapus..Blog ini Bersifat Dofollow, Anda komentar dapat Backlink Otomatis untuk Meningkatkan PR Blog Anda...Terima kasih atas Kunjungan,Salam Sukses....!!!