Kamis, 14 Juli 2011

Laundry Ramah Lingkungan

 Mencuci baju mungkin pekerjaan yang remeh. Namun kadang-kita kita malas melakukan pekerjaan ini setiap hari. Akhirnya pakaian yang harus dicuci itu menumpuk di akhir pekan. Akhirnya mencuci di laundry menjadi pilihan terakhir.

Namun usaha laundy atau binatu ini bisa mencemari lingkungan dan air. Banyak laundry yang menggunakan deterjen fosfat tinggi yang tidak ramah lingkungan. Fosfat yang tinggi  menghambat pemurnian air sehingga dapat membuat air tanah dan air sumur di sekitar lokasi pembuangan limbah tercemar.
ilustrasi

Laudry dengan IPAL
Tapi kini sudah ada usaha laudry yang ramah lingkungan. Laundry ini memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Lokasinya ada di Kampung Jarakosta, Desa Sukadanau, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi. Usaha tersebut dikelola oleh Koperasi Desa Sukadanau (KDS).
Ketua Koperasi Desa Sukadanau Soemarmo mengatakan, usaha ini dirintis pada 2008. Menurut Soemarmo, ide membuat laundry  muncul setelah melihat banyak karyawan pabrik di sekitar Desa Sukadanau yang memakai seragam.
Awalnya KDS menjalin kerjasama dengan pengusaha lokal dan standar mutunya masih sangat rendah. Koperasi ini kemudian bekerja sama dengan Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Kata Soemarmo, sistem IPAL ini baru berjalan dua bulan
“Waktu itu tidak memiliki IPAL. Tapi sekarang sudah ada. Teknologinya sederhana saja. Kita menggunakan beberapa bak pengendapan. Kemudian ada satu bak sebagai filter yang diisi dengan krikil dan serabut kapas serta pasir. Jadi deterjen limbah cucian itu tersaring, dan air yang dibuang sudah tidak berdampak pada lingkungan,” papar Soemarmo.
Ia menambahkan, hasil pemeriksaan laboratorium Sucofindo juga menunjukkan tidak ada limbah dari air buangan itu. Soemarmo mengakui untuk saat ini air buangan itu belum bisa dimanfaatkan, namun nantinya akan diusahakan agar airnya bisa digunakan untuk budidaya lele.
Menurut Soemarmo belum ada pihak lain yang mengikuti usaha laundry ini. Pasalnya, persyaratannya cukup berat, salain memiliki IPAL. juga harus jauh dari pemukiman warga untuk menghindari bau yang tidak sedap.

Cucian lebih bersih
Usaha ini mendapat respon positif dari warga sekitar. Ia mengklaim dari hasil uji kepuasan pelanggan diketahui bahwa hasil cucian yang dilakukan KDS diakui lebih bersih. Hal itu tercapai setelah unit usaha itu lebih memperhatikan aspek lingkungan.
Harga cucian juga tidak mahal. Untuk satu potong baju, Anda hanya mengeluarkan uang lima ribu rupiah. Baju-baju ini dicuci dengan deterjen yang sudah memiliki label ramah lingkungan. “Ternyata dengan lebih memperhatikan dampaknya ke lingkungan, yang dihasilkan pun menjadi lebih baik,” ujarnya.
Usaha ini dijalani oleh karyawan, tiga orang punya tugas mencuci dan menyetrika, sementara seeorang lainnya bertugas menjemur. Dalam sebulan terakhir usaha laundry ini sudah menerima 1500 potong pakaian.
Kini pihak CCAI memberikan kesempatan kepada KDS Green Laundry untuk terlibat sebagai salah satu vendor yang bertanggung jawab terhadap kebersihan pakaian karyawan CCAI.
Selain IPAL, aspek lain yang diperhatikan KDS adalah penghijauan lingkungan sekitar. Tujuannya, kata Soemarmo, untuk menyaring udara kotor. Tanaman-tanaman ini rajin disiram dengan air yang sudah disaring itu.

Ref: http://www.greenradio.fm
Best regards,

Owner TrashGoogleBlogs
print this page Print this page

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari Gabung Diskusi serta Mohon komentar dengan sopan, jangan SPAM atau SARA. Komentar SPAM atau SARA akan dihapus..Blog ini Bersifat Dofollow, Anda komentar dapat Backlink Otomatis untuk Meningkatkan PR Blog Anda...Terima kasih atas Kunjungan,Salam Sukses....!!!