Penetapan tersebut dituangkan dalam Maklumat PP Muhammadiyah No.375/MLM/I.O/E/2011 yang ditandatangani oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof.Dr.Din Syamsuddin dan Sekertaris Umum PP Muhammadiyah Agung Danarto, M.Ag.
SOCIAL ENTREPRENEURS > THINK INOVATIVE,MAKE INOVATION
| | |
| oleh Agustianto |
| Di era materialisme dewasa ini, kejujuran telah banyak dicampakkan dari tata pergaulan sosial-ekonomi-politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidak jujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan dan telah menjadi semacam rahasia umum yang merasuk ke berbagai wilayah kehidupan manusia. Sosok manusia jujur telah menjadi makhluk langka di bumi ini. Kita lebih mudah mencari orang-orang pintar daripada orang-orang jujur. Keserakahan dan ketamakan kepada materi kebendaan, mengakibatkan manusia semakin jauh dari nilai-nilai kejujuran dan terhempas dalam kubangan materialisme dan hedonisme yang cendrungmenghalalkan segala cara. Pada masa sekarang, banyak manusia tidak mempedulikan jalan-jalan yang halal dan haram dalam mencari uang dan jabatan . Sehingga kita sering mendengar ungkapan-ungkapan kaum materialis, “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal”. Bahkan selalu diucapkan orang,”kalau jujur akan terbujur”,”kalau lurus akan kurus”,kalau ihklas akan tergilas”. Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan bahwa manusia zaman kini telah dilanda penyakit mental yang luar biasa, yaitu penyakit korup dan ketidak jujuran. Nabi muhammad Saw pernah mempredeksi, bahwa suatu saat nanti, diakhir zaman,manusia dalam mencari harta,tidak mempedulikan lagi mana yang halal dan mana yang haram. (HR Muslim). Ramalan Nabi pada masa kini telah menjadi realitas sosial yang mengerikan, bahkan implikasinya telahmenjadi patologi sosial yang parah, seperti menjamurnya korupsi, pungli, suap, sogok,uang pelicin dsb. Banyak kita temukan pencuri-pencuri berdasi melakukan penyimpangan-penyimpangan dalam mengelola proyek. Manusia berlomba-lomba mengejar kekayaan dan kemewahan dunia secara massif, tanpa mempedulikan garisan-garisan syariah dan moralitas. Era reformasi yang telah berlangsung lebih 10 tahun, dengan tekad untuk memberantas segala bentuk kolusi,korupsi dan nepotisme, -bahkan telah ditetapkan lewat Tap MPR- belum menunjukkan tanda-tanda dan hasil yang mengembirakan,sebab, praktek kolusi,korupsi dan suap menyuap masih saja menjadi kebiasaan masyarakat kita . Untuk mengatasi dan mengurangi segala destruktip tersebut, puasa merupakan ibadah yang paling ampuh dan efektif, asalkan pelaksanaan puasa tersebut dilakukan dengan dasar iman yang mantap kepada Allah, dan ihtisab (mawas diri), serta penghayatan yang mendalam tentanghikmat yang terkandung di dalam puasa Ramadhan. Puasa melatih kejujuran Berbeda dengan sifat ibadah yang ada, puasa adalah ibadah sirriyah (rahasia). Dikatakan sirriyah, karena yang mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak, hanyalah orang yang berpuasa itu sendiri dan Allah SWT. Dalam ibadah puasa, kita dilatih dan dituntut untuk berlaku jujur. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorangpun. Namun kita tidak akan mau makan atau minum, karena kita sedang berpuasa. Padahal, tidak ada orang lain yang tahu apakah kita puasa atau tidak. Namun kita yakin, perbuatan kita itu dilihat Allah swt.. Orang yang sedang berpuasa juga dapat dengan leluasa berkumur sambil menahan setetes air segar ke dalam kerongkongan, tanpa sedikitpun diketahui orang lain. Perbuatan orang itu hanya diketahui oleh orang yangbersangkutan. Hanya Allah dan diri si shaim itu saja yang benar-benar mengetahui kejujuran atau kecurangan dalam menjalankan ibadah puasa. Tetapi dengan ibadah puasa, kita tidak berani berbuat seperti itu, takut puasa batal. Orang yang berpuasa dilatih untuk menyadari kehadiran Tuhan. Ia dilatih untuk menyadari bahwa segala aktifitasnya pasti diketahui dan diawasi oleh Allah SWT.Apabila kesadaran ketuhanan ini telah menjelma dalam diri seseorang melalui training dan didikan puasa, maka Insya Allah akan terbangun sifat kejujuran. Jika manusia jujur telah lahir, dan menempati setiap sektor dan instansi, lembaga bisnis atau lembaga apa saja, maka tidak adalagi korupsi, pungli, suap-menyuap dan penyimpangan-penyimpangan moral lainnya. Kejujuran merupakan mozaik yang sangat mahal harganya. Bila pada diri seorang manusia telah melekat sifat kejujuran, maka semua pekerjaan dan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya dapat di selesaikandengan baik dan terhindar dari penyelewengan-penyelewengan. Kejujuran juga menjamin tegaknya keadilan dan kebenaran. Secara psikologis, kejujuran mendatangkan ketentraman jiwa. Sebaliknya, seorang yang tidak jujur akan tega menutup-nutupi kebenaran dan tega melakukan kezaliman terhadap hak orang lain.Ketidakjujuran selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya mengancam stabilitas sosial. Ketidak jujuran selalu berimplikasi kepada ketidakadilan. Sebab orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya. Berlaku jujur, sungguh menjadi bermakna pada masa sekarang,, masa yang penuh dengan kebohongan dan kepalsuan. Pentingnya kejujuran telah banyak disapaikan Rasulullah SAW. Diriwayatkat bahwa, Rasulullah pernah didatangi oleh seorang pezina yang ingin taubat dengan sebenarnya. Rasulullah menerimanya dengan satu syarat, yaitu,agar orang tersebutberlaku jujur dan tidak bohong Syarat yang kelihatan sangat ringan untuk sebuah pertaubatan besar, tetapi penerapannya dalam segala aspek kehidupan sangat berat.Dan ternyata syarat jujur tersebut sangat ampuh untuk menghentikan perbuatan zina. Jika ia tetap berzina secara sembunyi-sembunyi, lalu bagaimana ia harus menjawab jika Rasulullah menanyainya tentang apakah ia masih berzina atau tidak.Untuk menghindari berbohong kepada Nabi, maka si pezina mengakhiri prilakunya yang dusta itu dan kemudian benar-benar bertaubat dengan penuh penghayatan. Dari riwayat itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa kejujuran sangat signifikan dalam membersihkan prilaku menyimpang, seperti korupsi, kolusi, penipuan, manipulasi, suap-menyuap dan sebagainya. Dewasa ini kesadaran untuk menumbuhkan sifat kejujuran sebagai buah dari ibadah puasa, kiranya perlu mendapat perhatian serius. Pendidikan kejujuran yang melekat pada ibadah puasa, perlu dikembangkan sebagaibagian dari kehidupan riel dalam masyarakat. Sebab apabila kejujuran telah disingkirkan, maka kondisi masyarakat akan runyam. Korupsi dan kolusi terjadi di mana-mana, pungli merajalela, kemungkaran sengaja dibeking oleh oknum-oknum tertentu demi mendapatkan setoran uang. Fenomena kebohongan dan tersingkirnya sifat kejujuran, mengantarkan masyarakat dan bangsa kita pada beberapa musibah nasional yang berlangsung secara beruntun dan silih berganti tiada henti. Terjadinya malapetaka berupa krisis ekonomi yang melanda bangsa Indonesia adalah cermin paling jelas dari makin hilangnya sukma. kejujuran dan semakin mekarnya kepalsuan dalam kehidupan bangsa kita. Dalam menghadapi kasus-kasus yang gawat seperti itu, pesan-pesan profetik keagamaan seperti pesan luhur ibadah puasa dapat ditransformasikan untuk membongkar sangkar kepalsuan dan mem bangun kejujuran. Ada yang secara pesimis berpendapat, bahwa membangun kejujuran pada era materialismeadalah suatu utopia (angan-angan) mengingat mengakarnya sifat ketidak jujuran dalam masyarakat dan bangsa kita. Sebagai orang beriman yang menyandang peringkat khairah ummah, sikap pesimis di atas harus dibuang jauh-jauh.Sebab gerakan amarma’ruf nahi mungkar yang dilandasi iman, harus tetap dilancarkan, agar konstelasi dunia ini tidak semakin parah. PENUTUP Realitas menunjukkan, bahwa kesemarakan ramadhan dari tahun ke tahun semakin meningkat, namun ironisnya, bersamaan dengan itu penyimpangan dan ketidakjujuran masih berjalan terus. Padahal, suatu bulan kita dilatih dan didik untuk berlaku jujur, menjadi orang yang dapat dipercaya. Bila selama satu bulan itu, orang-orang yang berpuasa benar-benar berlatih secara serius dengan penuh penghayatan terhadap hikmah puasa, maka pancaran kejujuran akan terpantul dari dalam jiwa mereka. Kalau puasa Ramadhan yang dilakukan tidak melahirkan manusia-manusia jujur, berarti kualitas puasa orangtersebut masih sebatas lapar dan dahaga. Karena puasa yang dilakukan tidak memantulkan refleksi kejujuran. Kalau orang yang berpuasa, masih mau menerima suap dari orang-orang yang mencari pekerjaan, berarti kualitas ibadah orang tersebut masih sangat rendah. Kalau orang yang berpuasa, masih mau melakukan mark up dalam proyek, korupsi dan kolusi, berarti puasa yang dilakukan masih jauh dari tujuan puasa. Kalau pasca puasa Ramadhan, kejujuran semakin tipis atau sirna,pungli,korupsi dan kolusi tetap menjadi kebiasaan, barang kali puasa yang dilakukan tidak didasari iman, tetapi mungkin ia melakukan puasa hanya karena mengikuti tradisi. Untuk mewujudkan manusia jujur, perlu peningkatan iman dan penghayatan kesadaran kehadiran Tuhan. Tanpa upaya ini, kejujuran tak kan lahir dari orang yang berpuasa Cara awalnya ialah dengan mengikuti Training ESQ atau Pesantren Qalbu. Hasilnya sudah terbukti secara sifnifikan di mana-mana. BanyakBUMN omzetnya meningkat secara signifikan setelah para direktur dan managernya ikut training ESQ (Emosional Spitual Quentiont). Yang dilaksanakan oleh Ary Ginanjar Agustian. (Dosen Pascasarjana UI ; Ekonomi dan Keuangan Islam) |
| | |
| oleh Agustianto |
| Selama sebulan kita melaksanakan ibadah puasa ramadhan. Kini kita berada di bulan syawal bulan peningkatan. Artinya, segala aspek kehidupan kita, idealnya menjadi meningkat lantaran latihan fisik dan mental secara ekstra keras selama ramadhan. Puasa yang kita laksanakan itu, merupakan pilar islam yang sarat dengan muatan-muatan hikmah. Para ahli dari berbagai disiplin ilmu, banyak menguak hikmah dan muatan filosofis yang terkandung dalam ibadah yang satu ini. Ada yang meninjaunya dari perspektif kesehatan, manajemen, psikologi, ekonomi, sosiology, etika sosial, dsb.Dengan analisis itu, puasa disimpulkan dapat membuat orang menjadi sehat, baik jasmani maupun rohani, puasa dapat meningkatkan kedisiplinan, membentuk insan yang jujur, berkepribadian luhur, mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, dapat melahirkan pencerahan etika dan perilaku positif. Tidak cuma itu, puasa dapat meningkatkan etos kerja dan produktifitas, bahkan dapat mewujudkan pencerahan spiritual dan intelektual. Demikianlah sebagian kekayaan hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa ramadhan. Namun, apakah hikmah puasa yang berlimpah itu tercapai pasca ramadhan sehingga puasa mempunyai dampak terhadap pencerahan perilaku, pembangunan manusia yang sehat fisik dan mental, jujur, berdisiplin, mempunyai kepekaan sosial, etos kerja tinggi, produktif, dsb?. Yang jelas, realitas menunjukkan, masih banyak orang yang berpuasa, kesehatannya justru semakin menurun. Pasca ramadhan ia selalu ke rumah sakit dan menghubungi dokter. Kejujuran mulai dikesampingkan, kolusi dan korupsi dipraktekkan, etos kerja melempem, produktifitas menurun, semangat mengamalkan ajaran agama menjadi luntur, pencerahan spritual dan intelektual menjadi gelap, jiwa kepekaan sosial menjadi pekak, bekerja tetap tidak disiplin, kurang menghargai waktu, dsb. Jika demikian, benarlah apa yang pernah dituturkan oleh Nabi kita, “Betapa banyak orang puasa, tetapi tidak mendapatkan hikmah sedikitpun dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga saja. Dan betapa banyak orang yang shalat di malam hari, tetapi tidak mendapat apapun kecuali sekedar bangun malam” (HR. Ad-Darimi). Dalam konteks inilah kita perlu melakukan evaluasi terhadap rangkaian ibadah yang telah kita lakukan selama ramadhan serta mencari sebab kegagalan puasa yang kita laksanakan. Kesenjangan antara ideal dan faktual Memang, Islam selalu unggul dalam ajaran yang kaya hikmah atau makna filosofis. Namun sangat disayangkan, selalu saja terjadi kesenjangan antara muatan hikmat yang holistik itu dengan praktek yang ditemui di lapangan. Misalnya, islam adalah agama yang sangat intens mengajarkan kebersihan, namun masih banyak ummat Islam yang akrab dengan lingkungan kotor. Islam adalah agama yang sangat menekankan kedisiplinan, tetapi ummat Islam lah yang banyak melanggar disiplin dan membuang-buang waktu. Islam adalah agama yang syarat mengajarkan urgensi membaca dan menuntut ilmu, tetapi ternyata ummat Islam lah yang malas membaca dan belajar, sehingga terbelenggu dalam bingkai keterbelakangan dan kebodohan. Islam mengajarkan etos kerja secara mengesankan, tetapi umat islam lah yang masih banyak bermalas-malasan. Puasa dalam Islam mengandung segudang hikmah, namun realitas selalu berbeda dengan tujuan hikmat tersebut. Inilah kesenjangan-kesenjangan antar ideal (das sein) dan faktual (das solen). Upaya pelacakan faktor-faktor terjadinya kesenjangan itu disebut dengan evaluasi, yaitu penilaian kembali ibadah puasa yang telah dilaksanakan. Evaluasi maupun introspeksi, merupakan keniscayaan dilakukan, demi perbaikan dan peningkatan kualitas ibadah di masa depan dan pada gilirannya merefleksikan implikasi positif secara vertikal dan horizontal. Introspeksi Puasa Dengan melakukan evaluasi (muhasabah), berarti kita berupaya merenungkan kembali segala amal yang kita lakukan. Dalam tataran ini, kita melakukan evaluasi secara total dan kritis terhadap ibadah puasa yang telah kita laksanakan. Kalau pasca ramadhan, kesehatan manusia semakin menurun, barangkali kita belum proporsional dalam mengukur porsi makanan. Betul, di siang hari kita menahan lapar dan dahaga, tetapi ketika masuk waktu berbuka di malam hari, kita makan dan minum secara berlebihan, seakan melampiaskan dendam. Kelebihan makanan, selalu menimbulkan kerawanan terhadap berbagai penyakit. Para ahli membuktikan bahwa perut yang tidak teratur, merupakan sumber terjadinya penyakit-penyakit fisik. Selain, timbulnya penyakit psca ramadhan ini, mungkin saja makanan dan minuman yang kita konsumsi, tidak halalan dan thayyiban sebagaimana yang dianjurkan Al-Qur’an. (QS. 2:168), sehingga berimplikasi negatif bagi kesehatan. Kalau pasca ramadhan, semangat beribadah semakin luntur sinar spritual semakin gelap, hati semakin mati dan kesat, barangkali karena puasa yang kita lakukan hanya terperangkap kepada pemenuhan rukun formal yakni menahan lapar, dahaga dan hubungan seksual. Atau mungkin kita belum maksimal melaksanakan amalan-amalan yang sangat dianjurkan di bulan ramadhan, seperti banyak membaca Al-Qur’an, rajin berdzikir, selalu bershalawat, banyak berdo’a, tekun istighfar, suka i‘tikaf, dsb. Karena, bila kita melakukan paket amalan ini, berarti kita telah berupaya mencerahkan spritual, mengasah dan mempertajam intuisi, serta meningkatkan etos ibadah. Atau mungkin kita masih melaksanakan sebagian amalan-amalan tersebut, tetapi hanya terperangkap kepada rutinitas ritual, atau kuantitas ibadah, tanpa meresapi dan menghayati makna-makna yang termuat di dalamnya. Kalau pasca ramadhan, kita masih egois atau individualistis, tak tergugah melihat kemiskinan finansial dan intelektual, tak tersentuh melihat penderitaan saudara-saudara kita, sehingga solidaritas sosial menurun, barangkali, selama ramadhan, kita tidak melaksanakan titah Rasul untuk memperbanyak sedekah dan infaq di bulan ramadhan, sehingga latihan bersifat pemurah tidak terlaksana. Akibatnya, sifat egois dan individualistis masih bermayam dalam diri orang yang berpuasa formalistis itu. Kalau pasca ramadhan, etos kerja dan produktifitas menurun, kedisiplinan tetap dilanggar, atau perilaku tetap menyimpang, barangkali puasa yang kita lakukan tidak didasarkan perenungan mendalam yang optimistik (ihtisaban) tentang makna filosofis di balik ritus puasa, atau mungkin mengabaikan dimensi historis pelaksanaan puasa di kalangan sahabat Rasul yang tetap mempunyai etos tinggi dan sangat produktif. Hal ini terlihat dari kemenangan-kemenangan besar yang mereka raih pada bulan ramadhan, seperti perang Badar, penaklukkan Mekkah, Tabuk, dsb. Kalau pasca ramadhan, kejujuran semakin tipis atau sirna, pungli, kolusi dan korupsi tetap menjadi kebiasaan, barangkali puasa yang kita lakukan tidak didasari iman yang benar, tetapi mungkin kita berpuasa karena mengikuti tradisi. Kita meyakini, bahwa doktrin ibadah dalam Islam, sarat dengan makna dan muatan filosofis yang mengesankan termasuk puasa. Tapi, karena masih banyak umat Islam yang terjebak kepada ibadah formalistis dan rutinitas ritual, maka puasa yang kaya hikmah itu, tidak melahirkan refleksi sosial, tidak menumbuhkan perubahan dalam perilaku keseharian, tidak mewujudkan pencerahan spiritual dan moral, serta tidak memberikan nilai tambah bagi peningkatan disiplin, etos kerja, dan produktifitas. Puasa bukanlah sekedar menunaikan rukun formal, tetapi dalam konteks yang lebih luas, puasa merupakan upaya pengendalian diri dari seluruh kecenderungan sifat dan perilaku yang merusak untuk mewujudkan insan muttaqin dan sosok manusia paripurna menurut konsep Al-Qur’an. Penutup Bila kita telah melakukan evaluasi dan introspeksi terhadap ibadah puasa dan amalan ramadhan lainnya, kemudian memperbaiki kekurangan-kekurangannya, maka selanjutnya kita serahkan kepada Allah SWT karena kita telah berupaya secara maksimal dalam beramal dan/muhasabah (evaluasi). Sikap ini harus pula kita iringi dengan khauf dan raja’, sebagaimana yang dikemukakan oleh imam al-ghazali dalam karya monumentalnya, ihya ulumuddin . Ia mengatakan, bahwa setelah kita melaksanakan ibadah puasa dan amalan-amalan lainnya, kita harus menyikapinya dengan dua maqam. Yaitu, khauf (khawatir) dan raja’ (harap). Maksudnya, “kita takut kalau-kalau ibadah kita tidak diterima Allah, dan “berharap” kiranya ibadah kita diterima-Nya” . |
Keistimewa'an 10 malam terakhir ramdhan
ALANGKAH cepatnya masa berlalu, ketika kita mula merasakan seronok melaksanakan ibadah, Ramadan semakin hampir menutupkan tirainya. Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah saat di mana Rasulullah SAW meningkatkan amalan dengan berjaga malam, beriktikaf dan mengejutkan ahli keluarga untuk bersama dengannya.
Berlalunya sebahagian besar dari hari-hari Ramadan sewajarnya menimbulkan kecemasan kepada kita. Apakah selama 19 hari kita berpuasa benar-benar telah menjadikan kita manusia yang bertakwa atau sebaliknya?
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan maksudnya: Aisyah r.a meriwayatkan bahawa Nabi Muhammad SAW apabila masuknya sepuluh malam terakhir (Ramadan) baginda menghidupkan malam, baginda mengemaskan kainnya dan baginda mengejutkan isterinya (yakni tidak bersama dengan isteri).
Hadis ini menceritakan kepada kita bagaimana Nabi SAW bersungguh-sungguh melaksanakan ibadah meskipun baginda tidak melakukan dosa. Namun baginda telah memberikan satu contoh tauladan yang baik kepada umatnya di dalam menghayati sepuluh hari terakhir Ramadan.
Panduan yang diberikan oleh baginda ini menggambarkan betapa tinggi nilainya saat yang kita lalui sekarang. Menjadi suatu yang amat malang sekiranya kita semakin lemah dan cuai dalam melakukan ibadah meskipun Ramadan semakin hampir meninggalkan kita.
Imam Muslim juga meriwayatkan maksudnya: Aisyah r.a berkata: Bahawa Nabi SAW bersungguh-sungguh (beribadat) pada 10 malam terakhir tidak seperti mana (di bulan) selainnya.
Contoh yang ditinggalkan kepada kita oleh baginda SAW wajar dijadikan pedoman di dalam mengisi hari-hari terakhir Ramadan ini. Sepatutnya waktu ini tidak dihabiskan dengan menonton televisyen atau mengunjungi pusat-pusat membeli belah. Kerana inilah fenomena yang sering kita lihat.
Kelebihan 10 malam terakhir seolah-olah tidak langsung diambil kira. Malah lebih mendukacitakan, ada di kalangan muda-mudi Islam yang keluar malam ke taman-taman untuk memadu kasih tanpa rasa berdosa dan malu.
Sepatutnya bapa sebagai ketua keluarga mengambil berat soal membudayakan suasana ibadah khususnya pada 10 malam terakhir ini. Anak-anak perlukan satu panduan dan contoh dari ibu bapa.
Sebaliknya jika ibu bapa turut serta mengabaikan ibadah di penghujung Ramadan maka tidak hairanlah anak-anak tidak berminat untuk mengerjakan solat tarawih sebaliknya datang ke masjid atau surau hanya untuk membuat bising dan bermain mercun.
Apa yang dimaksudkan dengan baginda SAW menghidupkan malam dan mengemaskan kain sarungnya ialah sebagai satu gambaran bagaimana bersungguhnya baginda menumpukan saat ini dengan ibadah sehinggakan baginda tidak bersama dengan isteri untuk 10 malam terakhir ini.
Kesungguhan ini didorong pula dengan kelebihan sepuluh malam terakhir yang dijanjikan dengan kehadiran malam Al-Qadr atau Lailatulqadar.
Firman Allah SWT:
Maksudnya: (Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan). (al-Qadr: 1-3)
Malam al-Qadr sengaja dirahsiakan oleh Allah Taala sebagai satu ujian kepada umat Islam di dalam mencari rahmat dan kasih-Nya. Bagi mereka yang benar-benar beriman keghairahan mencari reda Allah menjadikan mereka begitu teruja meningkatkan pencarian ganjaran berlipatganda yang dijanjikan oleh Allah SWT.
Sebaliknya bagi mereka yang alpa, saat-saat ini seringkali dipenuhi dengan aktiviti persiapan hari raya yang menyibukkan mereka hingga terlupa promosi istimewa pelepasan azab neraka yang dijanjikan oleh Allah di penghujung Ramadan.
Antara amalan yang boleh dilakukan bagi menghidupkan sepuluh hari terakhir Ramadan ialah menghidupkan malam dengan solat malam seperti tahajud, hajat, taubat dan juga berzikir kepada Allah. Juga digalakkan supaya mengejutkan ahli keluarga supaya bersama-sama menghidupkan malam dengan amal ibadah.
Ibu bapa wajar mengajak anak-anak yang sudah dewasa khususnya bersama berqiamullail dan jangan biarkan mereka lena. Bagi memudahkan mereka bangun bersama pastikan mereka dapat tidur lebih awal.
Bagi suami isteri 10 malam terakhir tidak digalakkan untuk bersama kerana Nabi SAW diberitakan bahawa baginda mengemaskan ikat kainnya yakni tidak bersama dengan isteri kerana disibukkan dengan amal ibadah.
Amalan beriktikaf juga wajar diteruskan di penghujung Ramadan ini iaitu dengan memperbanyakkan duduk di masjid untuk beribadat kepada Allah. Kata Imam Az-Zuhri: Maksudnya: “Suatu yang pelik bagi kaum muslimin mereka meninggalkan amalan iktikaf sedangkan Nabi SAW tidak pernah meninggalkannya semenjak baginda tiba di Madinah (hijrah) hingga ia meninggal dunia”.
~TEBArkan SLm & JADiKAnlHA HAri INI leBIH baIk darI HAri KEMAriN~
Nuzul Al-Quran dan Perubahan Sosial
Menyambut 17 Ramadhan .....dst.... Malam Lailatul Qadar.
by: H.Asrul Hoesein
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- pernah ditanya: “Apa hukum orang yang berpuasa namun meninggalkan shalat?”
Beliau rahimahullah menjawab:
“Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat adalah kafir dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta’ala,
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (Qs. At Taubah [9]: 11)
Alasan lain adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
“Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani)
Pendapat yang mengatakan bahwa meninggalkan shalat merupakan suatu kekafiran adalah pendapat mayoritas sahabat Nabi bahkan dapat dikatakan pendapat tersebut adalah ijma’ (kesepakatan) para sahabat.
‘Abdullah bin Syaqiq –rahimahullah- (seorang tabi’in yang sudah masyhur) mengatakan, “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila seseorang meninggalkannya akan menyebabkan dia kafir selain perkara shalat.” [Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari 'Abdullah bin Syaqiq Al 'Aqliy; seorang tabi'in. Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52, -pen]
Oleh karena itu, apabila seseorang berpuasa namun dia meninggalkan shalat, puasa yang dia lakukan tidaklah sah (tidak diterima). Amalan puasa yang dia lakukan tidaklah bermanfaat pada hari kiamat nanti.
Oleh sebab itu, kami katakan, “Shalatlah kemudian tunaikanlah puasa.” Adapun jika engkau puasa namun tidak shalat, amalan puasamu akan tertolak karena orang kafir (karena sebab meninggalkan shalat) tidak diterima ibadah dari dirinya.
[Sumber: Majmu' Fatawa wa Rosa-il Ibnu 'Utsaimin, 17/62, Asy Syamilah]
***
Penerjemah: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
Dzikir Ketika Melihat Hilal
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat hilal beliau membaca,
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِِيمَانِ ، وَالسَّلامَةِ وَالإِِسْلامِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
“Allahumma ahillahu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal islaami. Robbii wa Robbukallah. [Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan sabit) adalah Allah]” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ad Darimi. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan karena memiliki penguat dari hadits lainnya)
Ucapan Ketika Dicela atau Diganggu (Diusilin) Orang Lain
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
“Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Inni shoo-imun, inni shoo-imun [Aku sedang puasa, aku sedang puasa]“.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). An Nawawi mengatakan, “Termasuk yang dianjurkan adalah jika seseorang dicela oleh orang lain atau diajak berkelahi ketika dia sedang berpuasa, maka katakanlah “Inni shoo-imun, inni shoo-imun [Aku sedang puasa, aku sedang puasa]“, sebanyak dua kali atau lebih. (Al Adzkar, 183)
Do’a Ketika Berbuka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka membaca,
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah [Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah]” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Adapun mengenai do’a berbuka yang biasa tersebar di tengah-tengah kaum muslimin: “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu….”, perlu diketahui bahwa ada beberapa riwayat yang membicarakan do’a ketika berbuka semacam ini. Di antaranya adalah dalam Sunan Abu Daud no. 2357, Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 481 dan no. 482. Namun hadits-hadits yang membicarakan hal ini adalah hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits tersebut ada yang mursal yang dinilai lemah oleh para ulama pakar hadits. Juga ada perowi yang meriwayatkan hadits tersebut yang dinilai lemah dan pendusta oleh para ulama pakar hadits. (Lihat Dho’if Abu Daud no. 2011 dan catatan kaki Al Adzkar yang ditakhrij oleh ‘Ishomuddin Ash Shobaabtiy)
Do’a Kepada Orang yang Memberi Makan dan Minum
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,
أَللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ سْقَانِى
“Allahumma ath’im man ath’amanii wasqi man saqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku] (HR. Muslim no. 2055)
Do’a Ketika Berbuka Puasa di Rumah Orang Lain
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika disuguhkan makanan oleh Sa’ad bin ‘Ubadah, beliau mengucapkan,
أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ
“Afthoro ‘indakumush shoo-imuuna wa akala tho’amakumul abroor wa shollat ‘alaikumul malaa-ikah [Orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang yang baik menyantap makanan kalian dan malaikat pun mendo'akan agar kalian mendapat rahmat].” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Do’a Setelah Shalat Witir
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa pada saat witir membaca surat “Sabbihisma Robbikal a’laa” (surat Al A’laa), “Qul yaa ayyuhal kaafiruun” (surat Al Kafirun), dan “Qul huwallahu ahad” (surat Al Ikhlas). Kemudian setelah salam beliau mengucapkan
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ
“Subhaanal malikil qudduus”, sebanyak tiga kali dan beliau mengeraskan suara pada bacaan ketiga. (HR. Abu Daud dan An Nasa-i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengucapkan di akhir witirnya,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Allahumma inni a’udzu bika bi ridhooka min sakhotik wa bi mu’afaatika min ‘uqubatik, wa a’udzu bika minka laa uh-shi tsanaa-an ‘alaik, anta kamaa atsnaita ‘ala nafsik” [Ya Allah, aku berlindung dengan keridhoan-Mu dari kemarahan-Mu, dan dengan kesalamatan-Mu dari hukuman-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diri-Mu sendiri]. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, An Nasa-i dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Do’a di Malam Lailatul Qadar
Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata, “Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ [Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku].” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal (http://rumaysho.com)
Dipublikasikan oleh muslim.or.id

Berlomba Dalam Kebaikan
by;asrulhoeseinbrotherblog
Puasa Ramadhan
Kita menyakini bahwa shiyam (puasa) di bulan Ramadhan adalah salah satu rukun Islam. Puasa diwajibkan jika sudah terlihat hilal ketika cuaca cerah. Atau dengan menggenapkan bulan Sya’ban sebanyak 30 hari ketika cuaca mendung. Yang dijadikan landasan masuknya bula Ramadhan adalah ru’yah yang dilakukan dengan mata telanjang. Ketika hilal sudah nampak di sebuah negeri, maka negeri lain yang memiliki kesamaan-(waktu dalam) sebagian waktu malamnya-mempunyai kewajiban untuk mengerjakan puasa menurut pendapat yang paling shahih dari dua pendapat ulama. Hendaknya para ulama berusaha untuk menyatukan umat dengan satu pendapat dalam permasalahan ini.
Dalil tentang diwajibkannya puasa di bulan Ramadhan banyak disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah. Dan merupakan ilmu dalam Islam yang harus diketahui oleh umatnya. Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Al-Baqarah[2]:183).
Allah Ta’ala berfirman,”Bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qyran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa diantara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (Al-Baqarah[2]:185)
Rasulullah SAW bersabda,”Islam itu dibangun di atas
“Barang siapa mengerjakan puasa Ramadhan karena Iman kepada Allah dan mengharap pahalanya, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Rasulullah menerangkan bahwa kewajiban mengerjakan puasa Ramadhan ditabdai dengan melihat hilal ketika cuaca cerah; atau menggenapkan hitungan bulan Sya’ban ketika cuaca mendung, dengan sabdanya.”Puasalah kalian jika melihat hilal dan berbukalah kalian jika melihat hilal! Jika cuaca mendung, maka sempurnakan bilangan Sya’ban menjadi 30 hari” Dalam sebuah riwayat,”Jika (hilal) tak dapat terlihat.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW bersabda,”Janganlah kalian berpuasa kecuali setelah melihat hilal! Dan janganlah kalian berbuka kecuali setelah melihatnya! Jika cuaca mendung, maka perkirakanlah.” (HR.Bukhari dan Muslim)
[Ramadhan1430H2009M_asrulhoeseinbrotherblog_AgamaIslam]
Read More...Untuk permintaan sebagai narasumber atau pelatihan pengelolaan sampah, silakan menghubungi email: hasrulhoesein@gmail.com atau WA: 081287783331 atau Mobile: 08119772131
© Blogger templates ProBlogger Template by Ourblogtemplates.com 2008
Back to TOP